Posted by: weddingjogja on: 28 April 2009
Seusai Hawa diciptakan Adam bertanya,”Siapa dia Ya ALLAH?”
“Ia adalah istri,pendamping, dan penyejuk hidupmu”.Sejak itu kisah kesendirian Adam berakhir;digantikan drama Harmonindan kebersamaan ‘tuk berbagi suka dan duka;menggurstksn titik awal sejarah taaruf dalam tarikh kemanusiaan.
Dengan bermodalkan spirit taaruf, setelah terpisah bertahun-tahun semenjak diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa tak kenal lelah mencari cari hingga keduanya bertemu kembali. Konon, pertemuan itu terjadi di “bukit kasih sayang” (jabal rahmah) di padang Arafah. Sejak itu, dengan spirit taaruf yang menggelora, Adam dan Hawa mengarungi lautan kehidupan dengan penuh damai, cinta dan kasih sayang bersama kempat putra putri kembar mereka, yakni Qabil dengan saudara perempuan kembarnya dan habil dengan saudara perempuan kembarnya.
Alkisah, Habil bekerja sebagai peternak sapi dan kambing, sedangkan Qabil bekerja sebagai petani gandum. Menurut riwayat ahlul kitab, saudara perempuan kembar Qabil yang sangat cantik dan elok akan dijodohkan dengan Habil.
Singkat cerita,Qobil cemburu dan tidak rela saudara perempuan kembarnya dinikahkan dengan Habil.Soalnya,Qobil sendiri berkeinginan mengawininya.”Kami adalah anak-anak kelahiran surga,sedangkan mereka merupakan anak-anak kelahiran bumi,”gugat Qabil.”Dia tidak Halal kamu kawini,karena dia saudara kembarmu,”jelas Adam.
Namun,karena Qabil tetap menolak Adamlalu menyarankan kepada Qabil dan Habil untuk membuat upacara persembahan kurban;Habil mempersembahkan seekor kambing dan Qabil mempersembahkan sekarung gandum.Barang siapa yang persembahannya terbakar hangus oleh api yang datang dari langit maka dia-lah pihaki yang benar dan berhak mengawini saudara perempuan Qabil.Akhir cerita,persembahan Habil-lah yang diterima.Namun peristiwa tragis kemudian terjadi.Qabil membunuh Habil yang nota bene adalah saudara kandungnya sendiri.
Itulah titik awal sejarah pertikaian antar umat manusia di muka bumi;perselisihan yang disebabkan oleh aroganis,perebutan kekuasan,dan kerakusan untuk menguasai yang tidak menjadi haknya(kisah ini secara singkat diabadikan dalam QS.al-maidah/5:27-31).Sejak saat itu,makna dan spirit taaruf mulai memudar,dan pertikaian pun terus saja terjadi meninggalkan noda-noda hitam di jagat umat manusia yang dulunya suci bersih penuh damai.
Karena itu,pesan dan misi utama Rasulullah sebagai nabi terakhir adalah rahmatan lil’alamin,yaitu untuk mengembalikan kesucian dan kedamaian (rahmat) bagi alam semesta (QS.al-Anbiya’/21:107).Untuk itu pula Alquran mengerjakan kesetaraan derajat antar-sesama umat manusia,dengan derajat yang tertinggi adalah bagi mereka yang paling bertakwa;bahwa hikmah di balik penciptaan manusia yang baragam(laki-laki dan perempuan,bersuku-suku,dan berbangsa-bangsa) adalh agar mereka mengejawantahkan makna danspirit taaruf tersebut (QS.al-Hujurat/49:13).
Lalu,apa pengertian taaruf itu sendiri?Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,kata taaruf diartikan sebagai perkenalan.Secara filologis,kata tersebut diadopsi dari bahasa Arab al ta’aruf yang berarti memperkenalkan diri,mengenalkan sesuatu kepada seseorang,,mengenali seseorang/sesuatu untuk diketahui sendiri;atau juga diambil dari kata al-ta’aruf yang berarti saling mengenal,saling tahu dan saling mengerti.
Lebih mendalam lagi,kata al-ta’aruf dapat juga diartikanb sebagai saling menebarkan ‘urf atau ma’ruf (kemakrufan) yang berarti”segala sesuatu yang baik dan benar,diamini oleh hati nurani,akal sehat dan nilai-nilai luhur samawi serta dapat diterima dengan legaan hati oleh perasaan manusiawi yang fitri”.Inilah hakikat terdalam dari makna dan spirit taaruf yang mesti direalisasikan ke dalam ranah aplikatif relasi interpersonal antar sesama umat manusia,terutama antara laki-laki dan perempuan yang terjalin dalam ikatan pernikahan,sebagaimana dipesankan dalam QS.al-Hujurat/49:13.
Jadi,tujuan taaruf adalah membangun hubungan yang damai dan harmonis dalam bingkai sikap saling mengerti,saling memahami,saling berbagi dan mengisi,untuk memuwujudkan kebaikan bersama berdasarkan asas kemakrufan yang melegakan.Artinya Taaruf bukanlah sekedar perkenalan biasa melainkan “perkenalan suci”yang terwujud dalam proses saling mengenal yang diterangi dengan penyinaran akal budi dan hati nurani.Terlebih lagi,taaruf bukan berarti pacaran,atau proses perkenalan ala anak gaul,atau perkenalan singkat prapernikahan,sebagaimana yang sempat dipahami secara keliru oleh sebagian orang belakangan ini.pengertian taaruf jauh lebih luhur dari semua itu.
Sumber :Majalah NooR disi pernikahan 2008(No.05/TH.VI/MEI2008
28 April 2009 pada 15:30 am
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.